Whatapps

Kamis, 09 November 2017

Mengelola Kelelahan kerja


Mengelola Kelelahan kerja
Definisi kelelahan:
v  Levy (1990) mengutarakan bahwa kelelahan kerja masih merupakan misteri dunia kedokteran modern, penuh kekaburan dalam sebab musababnya serta pencegahannyapun belum terungkap secara jelas.
v  Rizeddin (2000): kelelahan menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun.
v  Keadaan yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan kerja dan penurunan kesiagaan.
v  Keadaan pada saraf sentral sistimik akibat aktivitas yang berkepanjangan dan secara fundamental dikontrol oleh sistim aktivasi dan sistim inhibisi batang otak.
v  Merupakan fanomena kompleks yang disebabkan oleh faktor biologi pada proses kerja dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
v  Merupakan kriteria lengkap tidak hanya menyangkut kelelahan fisik dan psikis tetapi lebih banyak kaitannya dengan adanya penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi, dan penurunan produktivitas kerja.
v  Adalah respon total terhadap stres psikososial yang dialami dalam satu periode waktu tertentu dan cenderung menurunkan motivasi dan prestasi kerja.

Fakta-fakta tentang kelelahan kerja:
Ø  Setiap hari dijumpai dalam kehidupan kerja lebih dari 65% pasien yang datang ke Poliklinik Perusahaan menderita fatigue
Ø  Kennedy (1987) : 24% orang dewasa yang datang ke poliklinik menderita kelelahan (USA)
Ø  Kelelahan kerja diderita oleh 25% tenaga kerja wanita, 20% tenaga kerja laki-laki. (England)
Ø  Kelelahan kerja memperlambat waktu reaksi, merasa lelah ada penurunan aktivitas dan kesulitan mengambil keputusan disamping gejala lain
Ø  Kelelahan dapat meningkatkan error operator atau pelanggaran saat kerja. Hal ini merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.
Ø  Fokus terhadap sistem kontrol jam kerja yang berlebihan, terutama untuk staf yang berada dalam kerja yang berbahaya harus ditingkatkan. Kelelahan harus diatur seperti halnya bahaya lainnya.
Ø  Tugas legal atasan untuk mengatur resiko kelelahan, terlepas dari keinginan individual pekerja untuk bekerja lembur.
Ø  Pihak manajemen dapat mengubah jam kerja yang membutuhkan pengawasan dan beresiko tinggi.

Faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan banyak hal yaitu:
ü  Penyebab medis: flu, anemia, gangguan tidur, hypothyroidism, hepatitis, TBC, dan penyakit kronis lainnya.
ü  Penyebab yang berkaitan dengan gaya hidup: kurang tidur, terlalu banyak tidur, alkohol dan miras, diet yang buruk, kurangnya olahraga, gizi, daya tahan tubuh, circadian rhythm.
ü  Penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja: kerja shift, pelatihan tempat kerja yang buruk, stress di tempat kerja, pengangguran, workaholics, suhu ruang kerja, penyinaran, kebisingan, monotoni pekerjaan dan kebosanan, beban kerja.
ü  Faktor psikologis: depresi, kecemasan dan stress, kesedihan.
ü  Beberapa faktor yang mempengaruhi: intensitas dan durasi kerja fisik dan mental, monotoni, iklim kerja, penerangan, kebisingan, tanggung jawab, kecemasan, konflik-konflik, penyakit keluhan sakit dan nutrisi (ILO, 1983 dan Grandjean, 1985)

Jenis Kelelahan
  • Proses terjadinya pada otot : kelelahan umum dan otot
  • Waktu terjadinya: akut dan kronis
  • Penyebabnya : faktor-faktor nonfisik (psikososial) dan lingkungan fisik

Perubahan Fisiologis Akibat Kelelahan kerja
Mekanisme prinsip tubuh mencakup sistem sirkulasi, sistem pencemaan, sistem otot, sistem saraf dan sistem pemafasan. Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati, 1994)

Gejala Kelelahan Kerja
Gilmer(1966) dan Cameron (1973):
Ø  Menurun kesiagaan dan perhatian,
Ø  Penurunan dan hambatan persepsi,
Ø  Cara berpikir atau perbuatan anti sosial,
Ø  Tidak cocok dengan lingkungan.
Ø  Depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif,
Ø  Gejala umum (sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan pencemaan, kecemasan, pembahan tingkah laku, kegelisahan, dan kesukaran tidur

Akibat Kelelahan Kerja
(Bartley dan Chute, 1982):
Ø  Prestasi kerja yang menurun,
Ø  Fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun,
Ø  Badan terasa tidak enak,
Ø  Semangat kerja yang menurun

Pengukuran Kelelahan Kerja:
  • Waktu reaksi,
  • Uji ketukjari (fingger-tapping test),
  • Uji flicker fusion.
  • Critical flicker fusion,
  • Uji Bourdon Wiersma,
  • Skala kelelahan IFRC (Industrial Fatique Rating Committe),
  • Skala fatique rating (FR Scale),
  • Ekskresi katekolamin,
  • Stroop test,
  • Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2)
  • Indikator pengukuran kelelahan kerja: waktu reaksi dan rasa lelah

Penanggulangan Kelelahan Kerja
  • Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan memadai, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dihadapi, maupun pengaturan udara yang adekuat, bebas dari kebisingan, getaran, serta ketidaknyamanan.
  • Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan.
  • Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
  • Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja.
  • Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
  • Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja, kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh diusahakan transportasi dari perusahaan.
  • Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka stabilitas kerja dan kehidupannya.
  • Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat diolaksankan secara baik.
  • Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.
  • Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja dengan kerja gilir di malam hari, tenaga baru pindahan.
  • Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol dan obat berbahaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar